Sabtu, 29 Mei 2010

Wawacan PANGANTEN TUJUH

Riwayat ini diceritakan oleh Anas bin Malik Rodiallahu Ta’ala. Pada suatu hari Rasulullah dihadapan para Muhajir, Soha dan Ansor. Seorang sahabat bertanya perihal makna hari Jum’at. Rasulullah menjelaskan bahwa hari Jum’at adalah hari silah dan nikah. Para sahabat meminta penjelasan lebih lanjut mengenai masalah tersebut

Hari Jum’at digunakan untuk hari perkawinan:

a. Pernikahan Nabi Adam dengan Babu Hawa.
Nabi Adam merasa kesunyian berada di surga. Pada suatu ketika, Nabi Adam sedang tidur, Tuhan memerintahkan malaikat Jibril untuk mengambil sebagian tulang rusuk kiri Nabi Adam. Tulang itu kemudian dijelmakan oleh Allah menjadi seorang wanita cantik diberi nama Babu Hawa. Allah memerintahkan para malaikat dan bidadari agar mempersiapkan perkawinan Adam dan Hawa. Babu Hawa tidak memperlakukan Nabi Adam sebagai suami sebelum menyerahkan mas kawin. Setelah Adam membaca solawat pada rosul terakhir, yaitu Muhammad, maka barulah Hawa sah dinikahi. Hari perkawinan Nabi Adam dengan Hawa, dijelmakannya Hawa menjadi wanita cantik dan diturunkannya Adam dan Hawa di padang Arafah setelah berpisah selama 100 tahun adalah pada hari Jum’at

b. Perkawinan Nabi yusuf dengan Julaeha
Nabi Yusuf menjadi budak belian Mesir. Julaeha isteri raja mencintai Nabi Yusuf. Julaeha menarik baju Yusuf hingga sobek sebab mau mengajak berbuat serong, nabi Yusuf menolak. Perbuatan julaeha terhadap Yusuf diketahui raja. Tapi karena Julaeha melaporkan lain, maka Yusuf dipenjara selama 13 tahun

Nabi Yusuf akhirnya menjadi raja. Ketika bertemu dengan Julaeha, Yusuf menolak cinta Julaeha sebab sudah nenek-nenek. Julaeha sakit hati atas perlakuan Yusuf, maka pergilah Julaeha ke hutan. Di hutan, atas petunjuk seorang kakek, Julaeha mandi di sebuah pancuran. Setelah mandi badannya berubah wujud menjadi seorang wanita muda yang cantik.

Nabi Yusuf melihat kecantikan Julaeha tertarik hatinya. Tapi Julaeha menolak dengan alasan sudah nenek-nenk. Kemudian atas bantuan maharaja Rayan bin Walid, Nabi Yusuf kawin dengan Julaeha. Perkawinan itu dilangsungkan pada hari Jum’at

c. Perkawinan Nabi Musa dan Sopura
Musa dapat meloloskan diri dari kepungan pembunuhan oleh kakitangan Raja Firaon di Mesir. Dalam perjalanan tak tentu tujuan, Musa datang di tanah Madyan. Di Madyan, Nabi Musa berjumpa dengan puluhan orang penggembala yang terdiri atas anak laki-laki dan perempuan. Di antara penggembala itu ada dua anak perempuan kakak beradik putera Nabi Sueb yang bernama Siti Mursilah dan Sorupa.

Ketika anak-anak gembala kesulitan air untuk minumnya kambing-kambing, Musa dapat menggulingkan batu besar yang ternyata penutup sumber air. Maka air bersih mengalir dengan derasnya dan ternakpun dapat minum dengan leluasa.

Siti Mursilah dan Sorupa berceritera kepada ayahnya bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat menggulingkan batu besar penutup sumber air. Nabi Sueb mengetahui bahwa menurut ramalan, yang dapat menggulingkan batu besar adalah orang yang akan menjadi rosul. Maka Nabi Sueb menyuruh Sopura untuk menjemput Musa, sedangkan Siti Mursilah disuruh menyediakan makanan.

Sopura tertarik hatinya kepada Musa, dan Nabi Sueb pun meminta kepada Musa agar mengawini Sopura, puterinya. Perkawinan dilakukan pada hari Jum’at dan sebagai mas kawin, Nabi Musa sanggup menggembalakan kambing milik Sopura selama 10 tahun.

d. Perkawinan Nabi Sulaeman dengan Ratu Bulqis
Nabi Sulaeman menjadi raja dari ratu-ratu angin, jin, manusia dan binatng. Kerajaan Nabi Sulaeman bernama negeri Sam. Ayah Nabi Sulaeman ialah Nabi Daud. Nabi Sulaeman diberi mukjizat oleh Allah, yaitu mempu mendengar jarak jauh walaupun hanya berbisik

Pada suatu ketika Nabi Sulaeman melakukan perjalanan keliling negeri. Di perjalanan Nabi Sulaeman bertemu dengan Hudhud dari negeri Yaman. Oleh Hudhud diceritakan kepada Mabi Sulaeman bahwa puteri raja Yaman bernama Bulqis sangat cantik. Bulqis sendiri berasal dari ibu seorang jin. Hudhud diperintah oleh Nabi Sulaeman untuk mengirimkan surat kepada Bulqis yang isinya agar Bulqis menghadap Nabi Sulaeman. Puteri Bulqis tidak yakin bahwa Nabi Sulaeman itu utusan Allah. Maka untuk mengujinya diutuslah Patih Mandar untuk mengirimkan upeti. Menurut pendapat Bulqis, jika upeti diterima berarti Sulaeman itu raja biasa saja.

Sebelum utusan itu tiba, Nabi Sulaeman memerintahkan kepada aparatnya untuk membuat istana yang megah. Ketika utusan tiba, Patih Mandar bukan main canggungnya sebab ia tidk bisa berada di istana yang megah. Upeti oleh nabi Sulaeman ditolak dan ia tetap minta agar Bulqis datang untuk memeluk agama Allah. Bila tidak datang, Yaman akan diserbu. Maka Bulqis pun datang menghadap ke Nabi Sulaeman dan ia merasa terkejut atas keagungan istana serta merasa aneh sebab “aras” miliknya di Yaman ada di keraton Nabi Sulaeman.

Nabi Sulaeman mencintai Bulqis. Namun, seorang raja jin tidak setuju nabi beristrikan Bulqis sebab takut Bulqis mendapat keturunan dari manusia. Oleh raja jin diceritakan kepada Nabi Sulaeman bahwa Bulqis itu kakinya pendek dan tidak berjari. Setelah dilakukan pengujian oleh Nabi Sulaeman, ternyata Bulqis tidak cacat. Maka kawinlah Nabi Sulaeman dengan Bulqis pada hari Jum’at.

Nabi Sulaeman tetap menetap di Sam, sedangkan Bulqis menetap di Yaman. Bulqis pun mau memeluk agama Allah sebagaimana kehendak nabi Sulaeman

e. Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Khodijah
Setelah kakeknya meninggal dunia, Muhammad dipelihara oleh Abitolib, pamannya. Atikah bibinya Muhammad berpikir bahwa Muhammad sudah dewasa dan layak beristri. Oleh karena itu, untuk biaya pernikahan, Muhammad harus bekerja.

Muhammad diterima menjadi pegawai pada perusahaan milik Siti Khodijah. Disuruhnya Muhammad menemani Maesaroh pergi berdagang ke negeri orang di luar Mekah. Maesaroh merasa aneh sebab diperjalanan awan hitam selalumembayangi kafilah sehingga teduh dan barang dagaan pun sangat cepat laku dengan untung yang berlipat ganda.

Di tempat perniagaan Muhammad, Maesaroh, teman-teman lainnya menonton perayaan di gereja. Lampu-lampu gereja berjatuhan. Menurut kepercayaan umat Yahudi kejadian tersebut pertanda di tempat itu, ada orang yang akan menjadi nabi akhir dan mengganti kepercayaan. Maka dicarinya orang termaksud untuk dibunuh. Namun Muhammad dapat meloloskan diri berkat bantuan Maesaroh.

Semua kejadian di tempat perniagaan oleh Maesaroh diceritakan kepada Khodijah sehingga Khodijah berniat menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Semua handai taulan baik dari pihak Muhammad maupun dari pihak Khodijah menyetujui perkawinan tersebut. Maka dilangsungkan perkawinan Muhammad dengan Khodijah pada hari Jum’at

f. Perkawinan Nabi Muhammad dengan Aisah
Setelah Khodijah meninggal dunia Nabi Muhammad mengalami rasa sedih yang mendalam. Nabi Muhammad merasa bahwa wanita macam Khodijah yang sangat luhur budinya itu tidak akan ada lagi. Maka datanglah Malaikat Jabrail yang menerangkan bahwa Allah telah mengawinkan Muhammad di langit ke tujuh dengan Siti Aisah puteri Abubakar.

Abubakar sangat gembira menerima lamaran Muhammad atas puterinya itu. Demikian pula Aisah merasa bahagia dicintai Nabi Muhammad. Maka dengan disaksikan oleh para sahabat, dilangsungkan pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisah pada hari Jum’at bulan Syawal.

g. Perkawinan Baginda Ali dengan Fatimah
Semua sahabat nabi menyarankan kepada Ali agar secepatnya mengawini Fatimah. Tapi Ali bimbang sebab segan kepada Rasulullah. Fatimah sendiri pada waktu itu sudah berumur 14 tahun dan pantas untuk bersuami. Nabi Muhammad merasa sedih mengingat tidak ada yang mengurusi perkawinan Fatimah, sebab Khodijah, ibunya telah tiada.

Turunlah malaikat Jibril, Mikail, Ijrail dan Ridwan tatkala Nabi Muhammad merasa sedih. Diberinya bermacam-macam keperluan perkawinan. Oleh nabi ditolak bahwa alat-alat semacam itu nanti saja di akhirat diberikannya. Namun Jibril menjelaskan bahwa untuk di akhirat lain lagi.

Ketika malaikat menghilang, datanglah Ali meminang Fatimah. Dengan disaksikan oleh para sahabat dilangsungkanlah perkawinan Ali dengan Fatimah pada hari Jum’at. Mas kawin yang diberikan oleh Ali berupa uang 500 dirham kontan. Akan tetapi, Fatimah menolak maskawin tersebut dan ia meminta yang lain. Permintaan mas kawin itu ialah agar pada hari kiamat dapat mensyafaati umat nabi, baik laki-laki maupun perempuan yang maksiat dan tidak taat. Tiba-tiba turunlah Malaikat Jibril mewahyukan bahwa Allah telah meluluskan permintaan Fatimah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar