Sabtu, 29 Mei 2010

Wawacan LAYANG SEH

Sayidina Ali bin Abi Talib, salah satu sahabat Nabi Muhammad, mempunyai keturunan yang bernama Abu Soleh. Abu Soleh beristeri Fatimah yang kemudian mempunyai anak yang bernama Seh Abdul Kodir Jaelani, yang dilahirkan pada tahun 470 Hijrah di Jaelan. Nama Jaelan diambil dari nama tempat kelahirannya.

Kakek Seh Abdul Kodir Jaelani mempunyai nama Jaelan. Oleh karena itu, keturunannya dapat juga mempunyai nama Jaelani.

Seh Abdul Kodir Jaelani mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Abu Ahmad dan seorang bibi yang bernama Dewi Aisah. Keduanya mempunyai kepandaian ilmu yang tinggi dan mempunyai jiwa yang sakti

Pada waktu kanak-kanak, Seh Abdul Kodir jaelani belajar membaca Al Qur’an sehingga hapal di luar kepala. Kemudian dia belajar berbagai ilmu agama Islam kepada berbagai guru. Seh Abdul Kodir Jaelani berguru fikih kepada ulama terkenal yang bernama Abdul Wapadi, berguru ilmu hadis kepada Abi Golib dan Seh Muhammad bin Hasan Mubarok, berguru ilmu nahu kepada Abu Kosim bin Muhammad, berguru ilmu mantek, maani dan logat kepada Seh Jakaria Yachya, berguru ilmu tata krama sopan santun kepada Hujatul Aripin. Selain itu, masih banyak lagi guru yang terkenal dan ulama ahli marifat yang mengajarkan ilmunya kepada Seh Abdul Kodir Jaelani.

Kecerdasan dan kepandaian Seh Abdul kodir Jaelani mengguli teman-teman seperguruannya. Bahkan, dia dapat melebihi kepandaian guru-gurunya. Ada seorang guru yang belum sempat diserap ilmunya, yaitu Imam Rapii, karena sebelum menyelesaikan pelajarannya guru itu telah meninggal dunia. Ketika para ulama di Bagdad mencari pengganti Imam Rapii, maka pilihan jatuh kepada Seh Abdul Kodir Jaelani.

Dia menjadi guru agama untuk seluruh Bagdad. Mazhab yang dianutnya adalah mazhab Imam Hambali. Kemudian seh Abdul Kodir jaelani terkenal sebagai seorang wali. Hal tersebut diterangkannya kepada salah seorang yang bertanya kepadanya. Dia mengatakan bahwa dia telah merasa diangkat sebagai wali ketika dia berumur 10 tahun. Ada malaikat yang melarang bermain dengan anak-anak yang lain dan mengatakan kepada mereka bahwa tempat ini harus dikosongkan, berikan kepada Seh Abdul Kodir jaelani sebagi waliyullah.

Ketika Seh Abdul Kodir sedang bermain-main di kampung Jaelan, ada suara yang berkata:”Hai Muhidin yang diberkahi”. Ketika sedang berada di dalam kamarnya terdengar pula suara gaib yang mengatakan bahwa dia (suara itu) tidak senang kepada orang yang melakukan pekerjaan yang tidak baik. Segeralah memohon petunjuk kepada Allah yang pengasih dan penyayang.

Hikayat 1
Pada waktu Seh Abdul Kodir dilahirkan, dia tidak mau menyusu karena hari itu adalah hari permulaan saum. Penduduk Jaelan hari itu mulai bersaum Ramadan.

Hikayat 2
Pada suatu waktu terdengar suara gaib oleh Seh Abdul Kodir Jaelani, “Aku yang mengadakan dan meniadakan, janganlah engkau mengantuk, bukankah ada yang sedang kau tunggu. Bila ingin tidur, tidurlah di tempatnya, bila tidak, bisa lupa kepada Yang MahaKuasa.

Hikayat 3
Seh Abdul Kodir Jaelani menerangkan kepada masyarakat bahwa mereka jangan berbuat yang tidak baik, yang terkutuk dan jangan berbohong. Hal seperti itu dilakukannya sejak ia kecil.

Ada seekor sapi yang berkata kepadanya bahwa dia dikasihi Allah. Janganlah terlalu senang bermain sebab tidak izin Allah. Setibanya di rumah, dia mohon ijin ibunya untuk pergi ke Bagdad untuk berguru kepada para wali dan memohon doa kepadanya. Ibunya berpesan agar jangan berbuat bohong. Seh Abdul Kodir Jaelani diberi uang wasiat dari ayahnya sebanyak 40 dinar.

Di tengah perjalanan dia dicegat perampok. Ketika ditanya oleh perampok membawa apa, dia menjawab membawa uang 40 dinar. Ketika ditanya lagi mengapa dia berterus terang, dijawabnya bahwa ibunya telah berpesan jangan berbohong. Atas kejujuran Seh Abdul Kodir Jaelani, perampok itu takluk kepadanya.

Hikayat 4
Seh Abdul Kodir datang berguru kepada salah seorang ulama yang bernama Seh Abdul Wapa. Tetapi, dia ditolaknya. Dia datang lagi untuk kedua kalinya, yang kemudian ditolaknya pula. Pada ketiga kalinya, dia dirangkul oleh Seh Wapa dan dikatakannya kepada murid-muridnya bahwa murid baru itu adalah waliyullah.

Oleh gurunya, dia diberi barang-barang pusaka yang berupa sajadah, tasbih dan tongkat. Gurunya berpesan agar berbuat kasih sayang terhadap sesama umat manusia dan orang tua.

Hikayat 5
Dalam perjalanan ke Bagdad, di tengah hutan Seh Abdul Kodir bertemu dengan Seh Abdullah beserta anaknya. Mereka akan pergi ke Seh Gaos. Seh Abdul Kaodir Jaelani bermaksud berguru memohon ilmu kepada Seh Gaos, sedangkan Seh Abdullah beserta aaknya bermaksud mengadu ilmunya dengan Seh Gaos.

Seh Gaos telah mengetahui maksud mereka, yang kemudian berkata bahwa Seh Abdul Kodir Jaelani akan menjadi wali, sedangkan Seh Abdullah beserta anaknya kelak akan sengsara. Ternyata ramalan itu benar terjadi.

Hikayat 6
Suatu ketika Seh Umar Kemani dan Seh Umar Bajaj melihat ada seseorang yang bertanya kepada Seh Abdul Kodir Jaelani mengapa dia disebut Seh Muhidin. Diceritakannya bahwa ketika di Bagdad ada seorang yang berpenyakit kudis dan berbau amis minta ijin duduk di dekat Seh Abdul Kodir Jaelani, tiba-tiba kudisnya hilang, dia menjadi sehat dan kulitnya bercahaya. Orang tersebut berkata bahwa Seh Abdul Kodir Jaelani akan menyemarakkan agama Allah. Orang itulah yang memeri nama kepadanya Seh Mugidin.

Hikayat 7
Seh Arip menceritakan bahwa ketika Seh Abdul Kodir Jaelani menyepi, datang segerombolan setan mengganggu. Dia tidak terganggu, malahan setan-setan itu cersujud dan pergi mejauh.

Hikayat 8
Seh Abdul Rojak menceritakan kepada teman-temannya bahwa pada suatu ketika Seh Abdul Kodir Jaelani shalat. Tiba-tiba di atas sajadahnya ada seekor ular, yang kemudian melilitnya pada tangan dan lehernya. Setelah selesai shalat, ular itu menghilang.

Keesokan harinya ada seorang laki-laki yang berkata, bahwa dia adalah jin yang berupa ular yang semalam mengganggunya. Dikatakannya bahwa dia baru bertemu dengan wali yang sangat luhur seperti Seh Abdul Kodir Jaelani. Dia bertobat dan tidak akan mengganggu lagi

Hikayat 9
Abu Isa bin Muhammad dan Abu Hasan bin Ibrahim menceritakahn bahwa, Seh Abdul Kodir Jaelani selama 15 tahun, setiap selesai sholat, Isa selalu mebaca Al Qur’an hingga subuh, dan selama 25 tahun setiao malam suka mengunjungi hutan.

Suatu ketika dia bertemu dengan Nabi Hidir di hutan. Nabi Hidir melarangnya pergi ke hutan dan harus menunggunya selama setahun. Permintaan itu ditaatinya. Ketika datang kembali, Nabi Hidir memberinya roti dan mentega

Hikayat 10
Seh Ajhari dan Seh kobari menceritakan pengalaman ayahnya yang pergi bersamsama dengan seh Idi. Di tengah perjalanan bertemu dengan Seh Idi. Di perjalanan bertemu dengan wanita yang miskin memberikan roti untuk Seh Abdul Kodir Jaelani. Kemudian diketahui bahwa wanita itu seorang wanita gaib yang memuliakan dan menguji keluhuran Seh Abdul Kodir Jaelani.

Hikayat seluruhnya berjumlah 100 buah, yang dapat disingkat menjadi 33 hikayat. Seluruh hikayat menggambarkan keluhuran budi Seh Abdul Kodir Jaelani yang tidak ada cacatnya, yang menunjukkan sifat-sifat baik menjadi tuntunan agama Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar