Minggu, 30 Mei 2010

Wawacan AHMAD MUHAMAD

Raja Jenur yang beristrikan Dewi Kosasih mempunyai dua orang anak bernama Muhamad dan Ahmad. Sejak kecil kedua orang anak itu sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Raja Jemur meninggalkan seekor burung perkutut yang bertuah. Menurut ramalan, barangsiapa dapat memakan kepala burung tersebut, kelak akan menjadi seorang senapati, dan yang dapat memakan badan burung tersebut kelak akan menjadi seorang raja. Ramalan tentang tuah burung perkutut itu terimpikan oleh seorang nakhoda dari negeri Habsi.
Nakhoda yang pernah mimpi tentang tuah burung perkutut kepunyaan Muhamad dan Ahmad, berusaha keras agar supaya memperolehnya. Ketika Muhamad dan Ahmad pergi mesantren, burung perkutut ditinggal di rumh bersama Dewi Kosasih. Nakhoda berhasil membujuk Dewi Kosasih sehingga kemudian burung perkutut itu oleh nakhoda disembelih dan dibakar. Akan tetapi ketika burung itu sedang dibakar dan akan dimakan, secara mendadak munculah Muhamad dan Ahmad. Direbutnya daging burung itu dari tangan nakhoda. Kepala burung dapat dimakan oleh Ahmad, sedangkan badan burung dapat dimakan oleh Muhamad. Setelah kedua orang anak itu memakan burung perkutut, maka serta merta mereka menjadi orang yang gagah berani. Kemudian mereka pergi berpetualang ke hutan.
Tersebutlah di kerajaan Mesir sedang diadakan sayembara pemilihan raja. Berdasarkan musyawarah, gajah putih yang berhak menentukan siapa yang akan menjadi raja Mesir. Dilepaskanlah gajah putih ke hutan oleh Baginda Benara.
Di tengah hutan Muhamad merasa dahaga. Disuruhnya Ahmad mencari air. Sementara itu Muhamad menunggu dan tertidur di bawah pohon. Ketika Muhamad sedang tidur, datanglah gajah putih. Oleh gajah putih, Muhamad diambil dan dibawa ke Mesir. Muhamad diangkat menjadi raja Mesir.


Setibanya Ahmad di tempat Muhamad yang menunggu di bawah pohon terkejut melihat Muhamad tidak ada. Ahmad pergi berusaha mencari kakaknya yang dianggapnya telah hilang. Tibalah Ahmad di sebua negeri. Di sini Ahmad berdiam pada seorang janda dan di sini pula Ahmad berjumpa dengan Siti Bagdad yaitu seorang putrid yang dicalonkan menjadi prameswari Muhamad dari Mesir.

Karena perkenalan Ahmad dengan Siti Bagdad menjadi akrab, Siti Bagdad berhasil mencuri azimat kepunyaan Ahmad. Atas perintah Siti Bagdad, Ahmad dibuang oleh para algojo kerajaan ke sebuah sungai.

Di perjalanan dalam pembuangan, Ahmad bertemu dengan raja jin, yaitu yang pernah mencuri sangkar burung perkutut tempo dulu. Oleh raja jin, Ahmad diberi tiga buah azimat yang berkhasiat sakti mandraguna. Setelah memperoleh azimat tersebut, Ahmad segera pergi kembali ke negeri Mesir dengan tujuan akan merebut kembali azimat yang pernah dicuri oleh Siti Bagdad. Dalam waktu yang relatif singkat, azimat itu dapat dimiliki kembali.

Siti Bagdad diculik oleh utusan raja Habsyi. Penculikan dapat digagalkan oleh Ahmad. Demikian pula pada penculikkan yang kedua kalinya oleh raksasa, dapat ditolong oleh Ahmad. Rupanya jodoh sudah menjdai suratan tangan Ahmad. Walaupun Ahmad sudah beristri Dewi Soja, Putri Nabi Sulaiman, Ahmad kawin lagi dengan Siti Bagdad.

Raja Habsyi yang dikalahkan oleh Ahmad tatkala menculik Siti Bagdad mempunyai putri yang cantik bernama Ratna Komala. Putri ini ternyata kemudian menjadi istri Muhamad raja Mesir. Setelah peristiwa inilah Ahmad dapat bertemu kembali dengan Muhamad, kakaknya yang telah menjadi raja Mesir. Kemudian Ahmad oleh Muhamad dijadikan senapati di kerajaan Mesir.

Wawacan ANGLINGSARI


Ada sebuah kerajaan bernama Kancana. Rajanya bernama Pangeran Angling Purnama, permasurinya Ratna Sari. Raja Kancana menginginkan seorang putra. Oleh patihnya yang bernama Bandar Gurit disarnkan agar bertapa di dalam tanah secara dikubur. Di dalam pertapaan terdengar suara yang mengatakan bahwa maksudnya akan dikabulkan, tetapi raja harus sanggup hidup sengsara.
Tidak lama permaisuri mengandung, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Raja memerintahkan  kepada patih agar mengumpulkan raja dari delapan negara yang telah takluk kepada raja Kancana. Pada saat itu raja mengadakan kenduri/ selamatan memberi nama kepada putranya. Putranya itu diberi nama Raden Anom Anglingsari.
Anglingsari diperintahkan raja untuk belajar segala ilmu pengetahuan dan keterampilan berperang. Yang dipercaya untuk mengajari Anglingsari adalah patih Bandar Gurit.
Istri patih negara Kancana menghendaki kerajaan diperintah oleh patih. Patih menawarkan salah satu dari delapan negara yang telah takluk kepada Kancana, tetapi ditolak oleh istrinya. Keinginan dipenuhi dengan jalan mengajak kedelapan raja yang takluk tersebut menyerang kerajaan Kancana.
Anglingsari diusir oleh patih. Raja Angling Purnama mengetahui bahwa dia akan diserang, segera meloloskan diri dari keraton. Ketika patih dan delapan raja masuk ke keraton, semuanya telah pergi. Keraton dalam keadaan kosong. Patih leluasa masuk keraton. Dia menjadi raja di negara Kancana.
Dicerirakan ada sebuah negara di pulau Seta yang diperintah oleh Dewa Barat. Raja mempunyai seorang anak perempuan yang cantik yang bernama Ratna Wulan. Atas kehendak orang tuanya, Ratna Wulan akan dikawinkan kepada anak patih yang bernama Komara. Tetapi, Komara tidak segera dikawinkan karena permaisuri sakit.
Anglingsari ingin melihat-lihat negeri. Dia bersama ibunya bermaksud pergi ke pulau Seta. Di tengah perjalanan ketika bermalam disuatu tempat ibunya mengajarkan ilmunya kepada Anglingsari. Suatu ketika terjadi banjir besar. Anglingsari dan ibunya ditemukan oleh raja raksasa, yang kemudian dibawa kenegrinya.
Ada seorang lurah di Kuta yang bernama Citrayuda. Dia mempunyai anak yang bernama si Gawing. Setiap hari Gawing disuruh pergi bersekolah tetapi dia tidak pernah belajar. Setelah diketahui oleh ayahnya , si Gawing kabur meninggalkan rumahnya. Di perjalanan si Gawing bertemu dengan Anglingsari yang terpisah dengan ibunya. Mereka terus bersahabat. Anglingsari berganti nama menjadi Ki Benda dan menyamar pura-pura bukan seorang anak raja.
Di negara Seta, Anglingsari dan si Gawing dipungut sebagai anak oleh kakek dan nenek tukang warung. Dengan kepandaian ilmunya Anglingsari menjadikan warung kakek menjadi laku sehingga menjadi kaya. Dia tetap menjadi ki Benda.
Ki Benda membuat layang-layang aneh yang diterbangkan pada malam hari, semua orang mengagumi kepandaian Ki Benda. Berita ada seorang pandai dan cakap sampai ke putri ratna wulan. Ki Benda dipanggil ke keputren. Setelah berkenalan, Ratna Wulan tertarik hatinya kepada Ki Benda, dan demikian pula Ki Benda. Akhirnya, putra raja yang menyamar itu diketahui pula oleh putri.
Patih dan Komara datang memeriksa keputren, mereka mengetahui bahwa ada laki-laki yang masuk ke dalam keputren. Ratna Wulan mengatakan bahwa yang masuk adalah pencuri. Dia minta kepada patih dan Komara untuk menangkapnya. Ratna Wulan berpura-pura hanya menaruh hati kepada Komara.
Anglingsari pergi meninggalkan negeri Seta. Hal itu diberitahukan kepada Ratna Wulan melalui sepucuk surat yang ditipkan kepada si Gawing. Dengan kepergian Anglingsari, Ratna Wulan meminta waktu untuk mengundurkan perkawinannya dengan Komara selama tiga bulan. Dia mengajukan alasan bahwa sedang melakukan sesuatu yang baru dilaksanakan selama empat bulan, padahal niatnya selama tujuh bulan.
Di perjalanan Anglingsari mendapatkan beberapa azimat kesaktian diri, diantaranya bisa terbang, selalu menang dalam berperang dan segala keinginan terkabul. Dengan menolong raksasa yang akan digigit ular naga, Anglingsari bertemu dengan putri Cempaka, kemudian menikah dengannya. Mereka pulang ke negeri Campaka.
Campaka yang sedang berperang dengan Bamantaka dibantu oleh Anglingsari sehingga unggul. Anglingsari berperang mengalahkan raksasa Samud.
Ketika Ratna Wulan akan dinikahkan, semua raja diundang. Anglingsari berganti rupa menjadi santri koreng. Dia masuk ke keputren berpura-pura akan menjual cincin. Cincin itu dikenali oleh putri sebagai cincin Anglingsari. Kemudian Anglingsari berubah menjadi Komara, dan si Gawing diubah menjadi patih. Komara dan patih asli berperang dengan yang palsu, yang asli dikalahkan.
Anglingsari akhirnya menikah dengan Ratna Wulan. Banyak negara yang dikalahkan oleh Anglingsari sehingga banyak yang takluk. Kemudian Anglingsari bertemu kembali dengan ibunya yang dibawa oleh raksasa dan dengan ayahnya yang ditawan oleh raja yang telah dikalahkannya, yaitu yang dulunya menjadi patih ayahnya.

Wawacan BABAD CIREBON


Prabu Siliwangi, raja Pajajaran berputra sembilan orang, mereka adalah raja di Jakarta, Santang Pertala di Tanjung Kuning, Raden Garantang Setra, Ismu Genereh di Lebak, Sang Sekarsari, Nyi Ratu Tunjung Buwana di pesisir barat, Nyi Gedeng Curi di Panjang pesisir selatan, Nyi Ratu di Kawali dan Nyi Sekarsah di Karang.
Kesembilan putra Siliwangi tersebut meloloskan diri dari kerajaan. Ada dua putranya lagi yang bakal menggantikan tahta kerajaan Pajajaran yang masih tinggal ialah Wulangsungsang dan Mas Rasasantang.
Dalam kesempatan berkumpul diantara raja dengan dua orang putranya serta patih Arga dan ponggawa dikatakan bahwa barang siapa yang menjumpai orang Arab harus ditangkap dan dibunuh serta kepada rakyat yang membantu orang Arab tersebut akan dijatuhi hukuman mati. Hal itu diperintahkan karena raja Siliwangi tidak mau masuk agama yang dibawa orang Arab dan tidak mau melakukan sembahyang.
Wulangsungasng selalu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan disuruh berguru agama suci kepada She Nurjati di Gunung Amparan. Hal itu disampaikannya kepada ayahnya, dan mengajak ayahnya masuk agama suci. Prabu Siliwangi menolak dan marah sehingga Wulangsungsang diusirnya.
Wulangsungsang pergi dari kerajaan mencari She Nurjati. Dia bertemu dengan Seh Ora di Karawang, yang berasal dari Mekah. Oleh She Ora ditunjukannya bahwa Wulangsungsang harus berguru kepada Seh Nurjati secara langsung, karena Seh Ora melihat ada firasat bahwa Wulangsungsang akan menjadi wali. Dalam perjalanannya ke arah timur Wulangsungsang bertemu dengan pendita Danuwarsi di Gunung Merapi. Dia berguru selama sembilan bulan di sana.
Mas Rarasantang meninggalkan kerajaan pergi mencari Wulangsungsang. Raja memerintahkan patih Arga mencarinya. Tetapi, patih Arga pun tidak kembali ke keraton. Dia menjadi santri Ajar Sidik di Tajimalela dan mengganti nama menjadi Dadung Hawuk. Di perjalanan Rarasantang sampai pingsan di Tangkubanparahu. Dia ditemukan oleh Engdang Saketi dan diberi baju Antakusumah. Di Cialiwung bertemu dengan pendeta Angganyali, yang menunjukan suatu tempat ke arah timur. Di sana bertemu dengan pendeta Danuwarsi, tempat Wulangsungsang berguru. Rarasantang bertemu kembali dengan Wulangsungsang.
Setelah selesai berguru, Wulangsungsang diberi azimat cincin sampai Wulangsungsang dikawinkan dengan anak pendeta Danuwarsi yang bernama Indang Geulis dan diganti namanya menjadi Somadullah.
Dalam perjalanan mencari Seh Nurjati Wulangsungsang mendapatkan beberapa azimat. Dari Sanghyang Neke di Gunung Singkup mendapatkan golok cabang dan Wulangsungsang diberi nama Kadaullah. Dari Ratu Bango di Gunung Cangak mendapatkan piring wareng dan pendil waja.
Wulangsungsang dan Rarasantang berguru kepada Seh Nurjati di Gunung Amparan, Seh Nurjati yang berasal dari Mekah, merupakan buyut Nabi Muhammad. Dia telah ada di Gunung Amparan bertapa 200 tahun. Setelah selesai berguru agama Islam. Siti Nurjati memerintahkan kepada Wulangsungsang untuk membangun mesjid di pemukiman baru di tepi laut. Wulangsungsang diberi nama Cakrabumi atau Cakrabuana
Wulang sungsang dan Rarasantang disuruh naik haji oleh Seh Nurjati. Di Mekah, mereka berguru kepada Seh Nurbayan, patih Mesir yang ditugaskan oleh rajanya mencarikan calon isteri menemukan Wulangsungsang dan Rarasantang di Mekah. Patih Enor, Seh Nurbayan dan Wulangsungsang, serta Rarasantang pergi menghadap raja Mesir. Raja cocok akan calon istrinya. Setelah dilamar, raja Mesir dengan Rarasantang.
Rarasantang mengandung dan kemudian melahirkan putera kembar. Yang sulung diberi nama Syarif Hidayat, yang kedua Syarif Arifin. Setelah raja Mesir wafat, Syarif Arifin menjadi raja Mesir. Syarif Hidayat mempelajari ilmu agama Islam mengenai syariat, tarekat, hakekat dan marifat.
Syarif Hidayat bermimpi disuruh agar dia mencari Nabi Muhammad. Dia pamit kepada ibunya akan melaksanakan impiannya. Dia bermalam di makam Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Di makam Nabi Muhammad dia bermimpi lagi agar mencari Nabi Muhammad.
Dari Naga Pertala, Syarif Hidayat mendapatkan azimat cincin marbut yang dapat melihat tujuh lapis bumi dan langit. Dari Seh Nata Ula, Syarif Hidayat mendapatkan cincin mamlukat. Ketika bertarung di Pulau Majeti dengan Seh Nata Ula Syarif Hidayat diterbangkan angin hingga jatuh di Gunung Surandil di Tanah Jawa.
Setelah Syarif Arifin menjadi raja Mesir, Rarasantang kembali ke tanah Jawa. Dia tinggal bersama gurunya Seh Nurjati di Gunung Amparan Jati, Seh Nurjati disebut pula Seh Datul Iman atau Seh Datul Hafi.
Ketika turun dari gunung Surandil bersama-sama Seh Kamarullah yang berasal dari Cempa, ada seorang wanita pedagang roti yang memberi petunjuk jika ingin bertemu dengan Nabi Muhammad, tunggulah penunggang kuda. Tak lama kemudian, lewatlah di langit seorang penunggang kuda yang ternyata Nabi Hidir. Syarif Hidayat memegang ekor kuda tersebut, yang kemudian ditendangnya. Dia jatuh di negeri Ajrak yang diperintah oleh Jin bernama Abdussalam. 
Syarif Hidayat diberi dua buah kalmuksan. Karena nikmatnya dia miraj ke langit. Di langit pertama, kedua dan ketiga Syarif Hidayat melihat banyak malaikat. Di langit keempat, dia bertemu dengan Nabi Isa. Di langit kelima dia melihat malaikat Jabroil, Minkail, Israil dan Ijrail. Di langit keenam dia bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Di langit ketujuh dia menyebrangi jembatan siratal mustakim dan talmin. Kemudian naik lagi ke Loh Kadam dan Jalal Arasy Kursi. Kemudian dia sampai di tempat yang bercahaya. Di situ Syarif Hidayat bertemu dengan Nabi Muhammad.
Di antara Syarif Hidayat dengan Nabi Muhammad terjadi dialog tentang agama, syahadat, syariat, martabat, sifat zat, arasy kursi, dinding jalal, wot siratal mustakim, surga dan neraka. Setelah selesai memberikan penjelasan, Syarif Hidayat disuruh segera pulang. Sebagai tanda, dia diberi jubah sebagai pengangkatan menjadi wali sejagat dan diberi nama Sunan Jati Purba. Ketika sadar dia masih berada di dalam mesjid Ajrak.
Dia kembali ke tanah Jawa menemui ibunya di Gunung Amparan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi para wali untuk menyamakan ajaran agama Islam dan hakikat kalimat syahadat. Lamanya Syarif Hidayat menyebarkan kalimah syahadat adalah 63 tahun.
Syarif Hidayat diuji kepandaiannya oleh raja Cina. Dia diminta meramal isteri raja Cina yang pura-pura mengandung. Dikatakannya bahwa bayi yang berada dalam kandungan adalah perempuan. Karena dianggap berbohong, Syarif Hidayat dibuang ke dalam laut. Setelah isteri raja Cina membuka bokor yang diletakan di perutnya, ternyata dia benar-benar mengandung. Anaknya yang dilahirkan benar seorang perempuan. Anak itu tidak mau menyusu kepada ibunya. Setelah berumur 12 tahun anak itu menyusul Syarif Hidayat ke dalam laut, dan di sana bertemu dengan Nabi Hidir.
Indang Geulis, istri Wulangsungsang mempunyai anak perempuan yang bernama Pakuwati. Pakuwati dikawinkan dengan Syarif Hidayat. Mereka pindah dari gunung Amparan ke Kawedrahan.
Tumenggung Suryadewangga atau Tumenggung Tuban mempunyai dua orang putra, yaitu Raden Syahid Abdurrahman dan Arsawulan. Syahid Abduraahman ingin mengetahui hal-hal setelah meninggal. Harta kekayaan habis sehingga untuk selamatan wafat ayahnya ia menjual negara kepada patihnya, seharga 2000 dinar. Dengan uang itu ia pergi ke pasar. Ketika tiba di pasar ada seorang kakek yang mengatakan bahwa jika Syahid Abdurrahman ingin menjadi wali, belilah dongengnya seharga 2000 dinar. Kakek itu berceritera bahwa ia jangan membuka rahasia pribadi, jangan menolak rezeki, jangan tidur bila mengantuk, jangan makan sebelum waktunya, jika kawin harus menahan nafsu pada malam pertama jangan digauli, dan jangan mandi pada tengah hari.
Dengan mentaati dongeng kakek tersebut, Syarif Abdurrahman selamat dari kematian atas fitnahan karena memperkosa istri raja, dan selamat atas kematian karena kawin dengan ratu Rara Narpati (yang di malam pertama selalu membunuh suaminya).
Arsawulan pergi mengembara. Dia mempunyai anak yang diberi nama Ki Talangas, yang ditipkan kepada raja Erum, yang kemudian ditipkan ke Ki Derma surya. Kemudian ia dikenal sebagai Pangeran Dermayu atau Pangeran Darajat, atau Pangeran Darmakusumah.
Nama-nama yang menyebarkan agama Islam adalah Seh Bayanullah (Sunan Gunung jati); Cakrabumi, (Wulangsungsang, Kuwu Sangkan, Somadullah, Abdul Iman, Sunan Karawelang): Syarif Hidayat (Sinuhun Kangjeng Cirebon); Sunan Giri Gajah. Seh Syahid Abdurrahman (Seh Kamarullah, Lokajaya, Sunan Bonang, Sunan Kali); Seh Benting, Seh Kambangan (Sunan Kudus); Pangeran Kendal (Sunan karang Kendal, Sunan Katon); Pangeran Madum.
Syarif Hidayat berusaha mengislamkan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran itu dengan kesaktiannya, karena tidak mau masuk Islam, mengubah kerajaan menjadi hutan. Dengan kesaktian pula Syarif Hidayat mengubah para penghuninya menjadi harimau, yaitu mereka yang tidak mau masuk Islam.
Dalam penyebaran Islam, para wali berperang dengan kerajaan Majapahit, Raden Patah yang masuk Islam berperang dengan asiknya Husen atau Dipati Terung. Majapahit masuk Islam. Raden Fatah diangkat menjadi Sultan Demak dan dikawinkan kepada anak Syarif Arifin yang bernama Nyi Pulung Nyana. Raden Patah dikenal pula sebagai Pangeran Bintara.
Kerajaan Galuh yang sebelumnya tidak mau masuk Islam berperang dengan para wali. Kemenangan berada di pihak Islam dan Galuh pun masuk Islam.
Silsilah Kangjeng nabi adalah Nabi berputera Siti Fatimah, berputera Baginda Husen, berputra Japar Sidik, berputera Jenal Abidin, Beputera Kabir, berputera Japar Sidik, berputera Jenal Kabir, berputera jumali Kabir, berputera Sang Nata Ratu Mesir, berputera Kangjeng Sunan purba Gunung Jati.

Wawacan BABAD SUMEDANG A


Geusan Ulun yang menjadi raja di Sumedang masih keturunan Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Namun menurut silsilahnya juga masih ada hubungan saudara dengan Pangeran Girilaya dari Cirebon.
Geusan Ulun pergi menuntut ilmu di pesantren Demak. Ketika dalam perjalanan pulang ke Sumedang, ia mampir di Cirebon dan bertamu kepada Pangeran Girilaya. Permaisuri Pangeran Girilaya bernama Harisbaya, melayani Geusan Ulun atas perintah suaminya. Harisbaya jatuh cinta pada Geusan Ulun dan berusaha menggoda. Cinta harisbaya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan sebab geusan Ulun pun menaruh hati. Pada suatu malam berikutnya, Harisbaya dibawa lari oleh geusan Ulun ke Sumedang
Pasukan tentara dari Cirebon segera mengejar. Terjadilah perkelahian. Namun tentara Cirebon tidk berhasil merebut kembali Harisbaya karena pasukan Sumedang yang dipimpin oleh Sayang Hawu berperang dengan penuh keberanian.
Serangan kedua kalinya dilaksanakan oleh pihak Cirebon setelah terlebih dahulu mengirimkan beberapa orang mata-mata. Korban peperangan dari kedua belah pihak cukup banyak, akhirnya peperangan antara Cirebon dan Sumedang ini dapat diselesaikan dengan jalan damai, yaitu dengan cara membicarakan yang menjadi pokok masalah. Karena Ratu Harisbaya menolak kembali ke Cirebon dan tetap mencintai Geusan ulun. Pangeran Girilaya bersedia melepaskannya dan menyerahkannya kepada Geusan Ulun. Sebaliknya, sebagai imbalan Geusan Ulun harus rela menyerahkan daerah Majalengka yang pada saat itu termasuk wilayah sumedang, menjadi wilayah Cirebon.
Ibu kota kerajaan sumedang dipindahkan dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur. Perpindahan ini sebenarnya tidak usah terjadi andaikata tidak ada kesalahan komunikasi antara geusan Ulun dengan panglima-panglima perangnya. Namun oleh para panglima perpindahan ini dianggap untuk menghindarkan serangan total dari pasukan Cirebon, kalau-kalau tidak tunduk pada perjanjian.

Wawacan BABAD SUMEDANG B


Cikal bakal penduduk Pulau Jawa, termasuk Sumedang bermula dari Galuh dan kemudian Pajajaran. Bangsawan Sumedang sendiri, pada satu pihak (pada garis ibu) merupakan keturunan Prabu Siliwangi, raja Pajajaran; pada pihak lain (dari garis ayah) keturunan Sunan Gunung Jati, Sultan di Cirebon.
Pernikahan putri Linggawastu dari Sumedang dengan Pangeran Pamelekaran, cucu Sunan Gunung Jati dari Cirebon melahirkan putera yang kelak menjadi bupati Sumedang pertama yang beragama Islam (Pangeran Santri). Pernikahan tersebut merupakan tahap awal proses Islamisasi penduduk daerah Sumedang.
Panembahan Senapati menduduki tahta di kerajaan Mataram. Ia yang telah beragama Islam merupakan keturunan raja Majapahit. Pada masa itu, Pasundan berada di bawah kuasa Mataram, termasuk Sumedang yang diperintah oleh Pangeran Kusumah Dinta (Pangeran Santri). Bupati Sumedang digantikan oleh putranya, bernama Pangeran Kusumah Dinata pula. Tetapi bupati ini lebih terkenal dengan julukan Pangeran Geusan Ulun.
Ceritera mengenai Pangeran Geusan Ulun mendapat tempat yang lebih luas dalam naskah Babad Sumedang B ini, terutama ceritera yang berhubungan dengan pernikahan Pangeran Geusan Ulun dengan ratu Harisbaya. Selanjutnya diceritakan mengenai pemerintahan para bupati Sumedang sampai Bupati Pangeran Sugih yang masih memerintah pada waktu naskah ini disusun (1920/1921). Dalam menceritakan pemerintahan tiap-tiap bupati itu, dikemukakan tentang istrinya, putra-putranya dan peristiwa-peristiwa yang dianggap sangat penting, diceritakan secara panjang lebar.
Ada enam ceritera di dalam babad ini yang dituturkan secara luas dan panjang lebar. Keenam ceritera itu adalah ceritera Pangeran Geusan Ulun, ceritera Dipati Ukur yang terjadi pada masa pemerintahan bupati keenam, Panembahan Sumedang, ceritera Cilik widara yang menduduki ibu kota dan menguasai sebagian daerah Sumedang, masih pada masa pemerintahan Bupati panembahan sumedang, ceritera Asep Jamu dan Asep Ema yang nantinya masing-masing menjadi bupati Sumedang dengan sebutan populer Pangeran Kornel (199 -1826) dan Bupati Karawang serta Bupati Sukapura, ceritera pemberontakan Bagusrangin pada masa pemerintahan Bupati Pangeran kornel, dan ceritera pemberontakan Dipanegara juga terjadi pada masa pemerintahan pangeran Kornel. Sementara itu, secara keseluruhan tentang Bupati Pangeran kornel diceritakan dalam kualitas ceritera paling banyak dibandingkan dengan ceritera 18 bupati lainnya.

Wawacan BABAD NABI


Abdul Mutalib, raja Mekah, bermimpi di belakang rumahnya tumbuh pohon yang besar sekali. Tingginya melewati langit. Pohon itu bercabang keempat penjuru angin, ke barat, ke timur, ke utara dan ke selatan. Panjangnya cabang pohon tak terkira sehingga ke tepi arah angin masing-masing. Pada setiap helai daunnya ada orang yang menggantung berpegang padanya.
Ketika ditanyakan kepada semua tukang nujum dan ramal akan tabir mimpi tersebut, dikatakan oleh para peramal bahwa ia akan mempunyai seorang putera, yang dahinya terdapat nurbuat Rasulullah. Dia akan menjadi tumpuan sejagat, yang berkilauan cahayanya menerangi semesta alam.
Abdul Mutalib berputera dua belas orang. Diceritakan dua orang anaknya bernama Abdullah dan Amir Hamzah. Di antara kedua belas anaknya itu hanya seorang perempuannya, yaitu Dewi Hadijah.
Siti Hindesah, puteri raja Essam, yang hafal kitab-kitab Taurat, Jabur, Injil, dan menguasai ilmu sara serta ilmu nalar, mengetahui bahwa nurbuat Rasulullah akan diturunkan di Mekah kepada yang bernama Abdullah. Dia bersama tentara kerajaan ayahnya berkunjung ke Mekah dan membuat kemah di pinggri kota. Dia bermaksud melamar Abdullah. Lamarannya ditolak meskipun telah membagi-bagikan hadiah kepada putera raja Mekah, dia kawin dengan Abu Sofyan, yang kemudian berputera Muswiyah, yang menjadi raja Ersam.
Pada malam jum’at semua penduduk Mekah, berdoa di Kabah, memohon kepada Allah kepada siapa turunnya nurbuat Rasulullah. Terdengar suara bahwa bakal istri Abdullah adalah yang bernama Siti aminah, puteri Sulban Aburah, Bani Najr dari Madinah. Abdullah dikawinkan dengan Siti Aminah.
Ketika Aminah mengandung, setiap bulan bermimpi dikunjungi para nabi. Pada bulan pertama bermimpi bertemu dengan Nabi Adam, bulan kedua dengan Nabi Idris, bulan ketiga dengan Nabi Enuh, bulan keempat dengan Nabi Ibrahim, bulan kelima dengan Nabi Ismail, bulan keenam dengan nabi Musa, bulan ketujuh dengan nabi Daud, bulan kedelapan dengan Nabi Sulaeman dan bulan kesembilan dengan Nabi Isa. Pada saat bayi yang dikandungnya berumur enam bulan Abdullah sakit dan kemudian meninggal di Mekah.
Raja Habsah beserta tiga belas raja lainnya menyerbu Masjidilharam di Mekah. Dikatakan oleh Abdul Mutalib bahwa Baitullah adalah kepunyaan Allah. Tetapi raja Habsyi bersikeras akan menghancurkannya.
Semua orang Mekah berdoa di Baitullah, Masjidilharam agar orang Habsyi dihancurkan. Ketika orang Habsah akan menyerang Mekah datanglah bala tentara Allah yang berupa burung Sijil. Setiap ekor membawa tiga buah batu berapi yang apinya dari neraka, dua buah digenggapnya sebuah diparuhnya. Raja Habsah beserta bala tentaranya mati hancur oleh lemparan batu berapi itu.
Waktu Siti Aminah melahirkan, datanglah seekor burung yang membawa kendi berisi air dan kain. Ketika itu tiba pula empat orang wanita cantik, yaitu Babu Hawa istri nabi Adam, Dewi Anjar isteri Nabi Ibrahim, Dewi Aisah bakal istri Nabi Muhammad dan Dewi mariam, ibu Nabi isa.
Karena keistimewaan sang bayi ada 4 hal yang terjadi, yaitu Abdullah tidak mau kawin kecuali dengan Aminah, sebelum bayi dilahirkan ayahnya sudah meninggal, ada 600 wanita meninggal karena ingin dikawin Abdullah dan ketika Aminah salat di Masjidilharam semua berhala jatuh bersujud.
Ketika Aminah melahirkan, dia tidak mengeluarkan darah, tidak merasa sakit, tercium bau harum mewangi dan dari bayi keluar cahaya berkilauan. Seperti pesan para nabi, bayi yang dilahirkan aminah diberi nama muhammad. Banyak nama yang lain diberikan oleh mahluk Allah yang lain ialah Abdulrojak. Para nabi memberi nama pada bayi tersebut Abdulwahab, Jin setan dan angin menamakannya Abdurrakhman, malaikat yang ada di gunung menamakannya Abdul Malik, samudra menamakannya Abdul Mahali, ikan menamakannya Abdul Qudusi, lalat menamakannya Abdul Muhyi, binatang buruan menamakannya Abdussalam, binatang pemakan daun menamakannya Abdul malik, kitab Jabur menamakannya Halillah, kitab Injil menamakannya Nuzi, kitab seratus empat dan aksara menamakannya Ahmad. Tetapi kesemuanya menyebut bayi tersebut dengan nama Muhammad.
Karena Aminah tidak mengeluarkan air susu untuk bayinya, maka dicarilah seseorang untuk menyusui Muhammad. Istri Haris yang bernama Halimah, yang berasal dari Husen mencari pekerjaan sebagai yang menyusui bayi, meskipun air susunya hanya keluar dari yang sebelah. Banyak orang yang menolak menyusui bayi yang bernama Muhammad karena dia anak yatim, jadi tentu upahnya sedikit. Tetapi halimah tetap ingin menyusui bayi tersebut.
Dengan persetujuan Abdul Mutalib, Halimah menyusui Muhammad. Tiba-tiba air susunya menjadi subur. Muhammad menyusu dengan lahapnya. Ketika Muhammad dibawa ke Kabah, hajar aswad menghampirinya dan menciumnya.
Muhammad dibawa ke negeri husen oleh halimah. Pada waktu malam hari tak pernah menyalakan lampu karena terang dari cahaya yang keluar dari Muhammad. Pepohonan dan tanaman lainnya yang dilewati Muhammad menjadi subur. Semua buah-buhan keluar buahnya dan sangat lebat. Negeri Husen yang kering menjadi subur. Istri yang bersuami jadi mengandung.
Dalam perjalanan selalu dilindungi awan sehingga tidak merasa panas, Muhammad selalu disukai oleh semua. Badanya tegap, mukanya cakap, suaranya empuk. Bila melihat ke langit atau bumi terlihat semuanya, meskipun dari masrik sampai magrib. Bila memberi salam, tidak terhalangi, bila tertidur, semua tingkah manusia terlihat. Dia tidak pernah terlihat membuang kotoran. Bila berkeringat, keringatnya harum baunya. Muhammad selalu dijaga oleh malaikat dari segala arah, muka, belakang, samping kiri dan kanan, masing-masing tujuhpuluh malaikat.
Muhammad pernah dibawa ke Mekah oleh halimah, tetapi kemudian dibawa kembali ke Husen. Dalam perjalanan kembali ke Husen, ketika berteduh di bawah pohon bajan, tiba-tiba pohon bajan itu berbunga. Bunganya berkilauan dan harum baunya. Hal ini terlihat oleh golongan Nasoro dengan balatentaranya. Seorang padri yang memimpin kaum Nasro segera membuka kitab yang dibawanya. Dikatakannya bahwa pohon bajan tidak pernah berbunga. Pohon bajan itu akan berbunga setelah 600 tahun setelah kelahiran Nabi Isa. Bila berbunga kelak, kata kitab tersebut, tentu ada seorang anak yang bernama Muhammad, bakal seorang nabi penutup. Awan putih selalu menaungi ke mana anak itu berjalan.
Setelah kaum Nasro yakin akan tanda-tanda yang cocok dengan keadaan waktu itu, padri memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh anak tersebut karena katanya bila sudah besar dia akan menyuruh mereka berpindah agama. Ketika bala tentara akan menyerang anak itu, datanglah angin ribut. Hari menjadi gelap sehingga tidak terlihat mana kawan mana lawan. Mereka berkelahi dan berperang dengan tentaranya sendiri sehingga banyak yang tewas. Setelah hari terang, Muhammad dan rombongannya sudah tidak ada.
Ketika Muhammad sedang mengembalakan domba, dia didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Dada Muhammad dibedah, dibersihkan dari segala kotoran, dibersihkan dengan air surga. Kemudian diisikan ke dalamnya Qur’an 30 juz, syariat, tarikat, iman, tauhid, marifat Islam, dan ilmu-ilmu lain. Setelah selesai dadanya diusap dan pulih seperti sediakala kemudian diberi nama Habibullah.

Wawacan BARJAH


Ketika raja Sukadana wafat, ia meninggalkan dua orang putera bernama Jayamukti dan Barjah. Kedua putra raja ini yang satu dengan yang lainnya mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Jayamukti, kakaknyamempunyai sifat kikir sehingga kaya raya. Barjah adiknya mmpunyai sifat suka menolong sesama hidup tanpa pamrih. Oleh karena itu hidupnya sederhana. Barjah dalam mengisi kehidupan ini selalu tidak senang tinggal diam, ia selalu mempelajari ilmu untuk mengisi rohani. Rahasia hidup dan kehidupan serta rahasia alam kemudian oleh Barjah dipelajari pula.
Melalui beberapa kali sayembara yang selalu dimenangkan, akhirnya Barjah menjadi raja yang berwibawa dan kaya raya. Adapun sayembara-sayembara yang pernah diikuti itu sebanyak tiga kali yaitu:
a.    Barjah berhasil mengalahkan seekor ular besar yang berbahaya dan meresahkan rakyat negara Tawangmangun. Hadiah yang dijanjikan ternyata harus ditebus dengan peperangan sebab raja Tawangmangun ingkar janji. Berkat bantuan raja jin. Barjah menang dan menerima hadiah sayembara berupa “dikawinkan dengan puteri raja”
b.    Barjah berhasil menemukan dan mengembalikan putri jin yang bernama nagawati. Putri itulah yang menjelma menjadi ular besar yang meresahkan rakyat Tawangmangun itu. Hadiah yang diterima dari sayembara ialah “Barjah dikawinkan dengan putri jin”.
c.    Barjah dapat membuktikan burung berbulu tiga warna dan dapat berbicara seperti manusia. Sayembara tersebut diadakan oleh negara Cantakapura. Burung berbulu tiga warna yang dapat berbicara itu sebenarnya adalah penjelmaan dari Barjah sendiri melalui kesaktiannya. Ilmu kesaktian yang dimiliki Barjah adalah pemberian dari raja jin. Hadiah yang diperoleh dalam sayembara itu ialah; “Barjah dikawinkan dengan putri raja Cantakapura”.

Adapun Jayamukti, kakaknya, harus hidup dalam kesengsaraan akibat dari sifat-sifatnya yang jelek. Semua harta kekayaan yang kebanyakan hasil warisan habis semua. Barjah menolong kakaknya dengan memberikan sebidang tanah dan rumah. Walaupun semasa muda Jayamukti pernah berbuat kejam terhadap Barjah, dengan cara menghina dan mencerca tatkala barjah meminjam uang, tetapi Barjah tidak membalasnya. Selain Jayamukti pernah menyakiti hati Barjah, juga pernah menyakiti hati ibunya sendiri, yaitu tatkala menagih utang yang dipinjamkan kepada ibunya. Akibat dari perbuatan Jayamukti seperti itu, menyebabkan ia menjadi peminta-minta. Namun untunglah kemudian ditolong oleh Barjah.