Minggu, 30 Mei 2010

Wawacan BUDIMAN

Jaman dahulu kala, semasa agama islam mulai berkembang di tanah Arab hidup seorang pemuda bernama Budiman. Anak muda ini berasal dari keluarga sederhana, tetapi mempunyai banyak teman, karena kelakuannya yang sangat baik. Ia sangat taat menjalankan perintah agama, bersembahyang lima waktu tak pernah ketinggalan. Di samping itu, ia pun selalu membantu kepada setiap orang yang memerlukan pertolongan, baik diminta maupun tidak. Dalam menghadapi maslah apa saja, sebelum bertindak ia selalu berpikir terlebih dahulu, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak, apakah pekerjaan itu halal atau haram hukumnya, apakah sesuai dengan tuntunan Nabi yang melanjutkan perintah Allah.

Dikatakan di negeri itu memerintah seorang raja yang sangat dolim, bernama Raja Napsu. Ia memerintah secara sewenang-wenang dan bertindak sangat kejam kepada rakyatnya yang dianggap melawan dan berbahaya. Entah sudah berapa ribu rakyat dipenggal lehernya oleh algojo atas perintah raja dan entah berapa ribu lagi rakyat yang dipenjara tanpa pengadilan terlebih dahulu.

Dalam keadaan begini, Budiman tampil sebagai pembela kebenaran, ia tidak gentar menghadapi angkara murka, kekejaman yang dilambangkan oleh raja Napsu. Peperangan ini berjalan sangat lama, karena raja dibantu oleh teman-temannya dan hamba sahaya yang sekongkol mementingkan hawa napsu darpada kebenaran. Tetapi, dengan tekun dan pantang mundur, lawan demi lawan dapat dikalahkan, dan akhirnya Budiman dpat membunuh raja Napsu yang lalim. Budiman yang lemah tidak mempunyai senjata yang hebat seperti Raja Napsu, keluar sebagai pemenang berkat keyakinan ilmu, memiliki keimanan terhadap Allah yang teguh, dan banyak beramal. Tiga pokok ajaran agama inilah yang merupakan senjata Budiman dalam menghadapi musuhnya, yaitu raja Napsu.

Sebagai imbalan, ia mendapat hadiah dari Allah Ta’ala, berupa tempat yang indah tiada taranya, penuh kebahagiaan yaitu sorga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar