Sabtu, 29 Mei 2010

Wawacan PARIKESIT

Wawacan “Parikesit”

Warabimanyu putera Arjuna yang meninggal dalam perang Bratayuda, meninggalakan seorang putera bernama Parikesit. Baladewa yang tidak ikut berperang, mengasuh Parikesit sampai diangkat menjadi raja di Astina. Dalam memegang tampuk pemerintahan, Parikesit dibantu oleh dua orang patih yaitu Arya Sancaka putera Prabu Darawati dan Arya Bambang Kaca, putera Gatotkaca, Arya Sacamuka putera Tumenggung Jayadrata, bertindak sebagai menteri urusan jajahan.

Parikesit berputera tiga orang yaitu Udrayana, Udrayaka dan Udasangsana. Ketiga orang anak itu diasuh oleh Lurah Semar dan anak-anak ciptaannya yaitu Cepot, Udawala dan gareng.

Sacamuka bersama Togog mencoba mengelilingi seluruh negeri, dan tiba di suatu tempat terlarang, yaitu tempat yang berisi arca-arca para Kurawa. Sacamuka berkeinginan masuk ke tempat terlarang itu, maka tiba-tiba jiwanya kemasukan ratu siluman yang bernama Setra Ganda, yaitu wujud dari sukma Dewi Permoni yang dendam kepada Arjuna.

Di tempat terlarang Sacamuka mendapat keterangan dari Togog bahwa ayahnya yang bernama Jayadrata dibunuh oleh Arjuna pada waktu perang Bratayuda sebab Bimanyu dibunuh oleh Jayadrata. Maka Sacamuka melakukan pemberontakan terhadap Parikesit. Akan tetapi, Sacamuka dapat dikalahkan dan dibunuh dengan senjata panah Pasopati milik Arjuna yang tersimpan di gua Gunung Dieng.

Dewi Permoni keluar dari jasad Sacamuka dan menyuruh setan siluman agar masuk menjiwai binatang-binatang sehingga melakukan keributan. Kekacauan di seluruh negeri terjadi sehingga dua orang putera Parikesit yang kedua dan ketiga hilang dari keraton.

Parikesit jatuh sakit kemudian meninggal dunia. Prabu Baladewa yang mencoba melawan binatang-binatang yang mengamuk tidak mampu menandingi, malah kemudian meninggal dunia.

Udrayana diangkat menjadi raja Astina. Udrayaka bersama-sama dengan Semar tiba di pertapaan Bagawan Wilugangga dan diangkat anak oleh resi itu secara rahasia. Setelah dewasa, Udrayaka pergi ke Astina bermaksud akan mengabdi kepada raja.

Seekor kuda bernama Abrapuspa mengamuk di Astina dan tidak ada yang dapat menaklukan. Udrayaka yang dituduh menjadi penyebab kekacauan di dalam negeri, dihukum untuk menundukkan kuda yang mengamuk, Udrayaka dapat menundukan kuda itu sehingga ia terlepas dari hukuman berat lainnya, maka pengabdian kepada raja dapat diteruskan.

Udrayana, raja Astina ingin naik kuda Abrapuspa yang hanya tunduk kepada Udrayaka. Setelah Udrayaka naik kuda bersama-sama dengan Udrayana, kuda merasa tidak senang dan kemudian lari tidak menentu arah bersma kedua penunggangnya sehingga akhirnya masuk hutan.

Udrasangsana putera ketiga Parikesit, tersesat di hutan ditemukan oleh Indrabahu, patih negeri Nianti Pura yang dirajai oleh Prabu Sulangkara. Udrasangsana diangkat anak oleh Indrabahu yang kebetulan tidk mempunyai anak. Setelah dewasa, Udrasangsana rupanya mirip Arjuna dan pandai melukis.

Karena Udrasangsana dapat melukis keadaan seluruh negeri Nianti Pura, oleh Prabu Sulangkara diberi gelar Raden Sungging Prabangkara. Selain itu Udrasangsana akan dikawinkan dengan Setiowati, puteri raja. Akan tetapi karena Udrasangsana dapat melukis istana lengkap dengan seluruh isinya bahkan melukis Setiowati dengan tanda hitam pada payudaranya, menyebabkan Udarsangsana dihukum berat. Tangan, kaki, telinga, hidung dipotong, sedangkan mata dicongkel yang kemudian badanya diterbangkan dengan layang-layang yang setelah menjulang tinggi tali layang-layang itu diputuskan. Udrasangsana jatuh di tengah hutan, atas kekuasaan Yang Maha Esa, melalui penciuman kuda Abrapuspa dapat ditemukan oleh Udrayana dan Udrayaka. Udrasangsana dapat disembuhkan kembali berkat azimat Udrayaka pemberian Resi Begawan Wilugangga. Ketika ketiga orang itu berkumpul datanglah Semar memberi penjelasan bahwa mereka adalah tiga bersaudara kakak beradik putera Parikesit yang terpisah waktu Astina diamuk binatang-binatang.

Dewi Setiowati diculik oleh Udrasangsana. Akan tetapi karena Udrayana terpikat hatinya oleh Dewi Setiowati, oleh Udrasangsana diserahkan kepada Udrayana untuk diperistri. Udrayaka berperang melawan Prabu Sulangkara. Namun akhirnya setelah diketahui bahwa Prabu Sulangkara itu adalah masih keluarga dengan raja-raja Astina, maka diadakan perundingan. Setiowati diijinkan kawin dengan Udrayana

Bambang Kaca beserta para ponggawa datang ke Nianti Pura menghadiri pesta perkawinan. Setelah pesta selesai, Udrayana dan Setiowati beserta kedua adiknya dengan diiring oleh Semar dan para ponggawa, pulang ke Astina. Tiba di Astina disambut meriah oleh penduduk Astina dibawah pimpinan Arya Sancaka.

Wawacan SAJARAH PARAKAN MUNCANG

Naskah ini berisi beberapa buah silsilah yang berhubungan dengan keluarga bangsawan Timbanganten Parakanmuncang, Pagaden dan Sumedang. Pada umumnya silsilah-silsilah tersebut diawali dari Nabi Adam sebagai manusia pertama, kemudian melalui Nabi Muhammad, Ratu Galuh, Ciung Wanara dan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, Ratu Galuh dianggap sebagai raja pertama di Pulau Jawa.

Keluarga bangsawan Parakanmuncang muncul sejak Dalem Tanubaya Samaita memerintah Kabupaten Parakanmuncang. Ia putera Tumenggung Demung, cucu Sunan Pagerbatang, cicit Waktuhayu, piut Batara Kawindu. Batara Kawindu putera Sempujaya, cucu Batara Sumaryang, cicit Sumun, piut Demang Batara Sakti. Demang Batara Sakti putera Demung Sadakamulan, cucu Batara Tunggal, dan cicit Prabu Siliwangi. Sementara itu, Dalem Tanubaya Samaita digantikan oleh saudaranya yang bernama Dalem Dipati Tanubaya, yang lalu dimakamkan di Bujil. Ia berputera Dalem Tanubaya yang dimakamkan di Karasak, Galunggung, berputera Dalem Tanubaya yang dimakamkan di Cibodas, Parakanmunvang, berputera Dalem Patrakusumah yang menjadi bupati di Sumedang dan dimakamkan di Jakarta, sebagai bupati Parakanmuncang diganti oleh menantunya bernama Dalem Suriya Natakusumah, berputera (wanita), Raden Riyakusumah; berputera Raden Ahmad yang menjadi patih Parakanmuncang; berputera Raden Jayuda; berputera Raden haji Ahmad Kanapiyah yang menjadi wedana pensiun Cicalengka dan dimakamkan di Cipetak, Cicalengka.

Selanjutnya, dikemukakan pula secara singkat mengenai kisah (sajarah) bangsawan Parakanmuncang yang bernama Raden Patrakusumah yang memerintah di Sumedang. Ia diangkat menjadi bupati Sumedang, karena yang berhak menjadi bupati Sumedang, di sini disebut Pangeran Sumedang Sepuh, masih kanak-kanak sewaktu kedudukan itu kosong. Raden Patrakusumah membawa seorang puteri ke Sumedang bernama Raden canderanegara. Putri tersebut dinikahkan dengan Raden Suriyanagara, putera bupati Sumedang almarhum yang kemudian menjadi Pangeran Sumedang Sepuh. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang puteri bernama Raden Rajanagara Talun. Raden Siruyanagara membenci mertuanya, kemudian ia lari ke Limbangan dan terus ke Cianjur. Di Cianjur Raden Suriyanagara menika lagi dengan saudaranya Dalem Cikalong Sepuh. Isteri keduapun akhirnya dicerai dan menikah lagi dengan Raden Suradimaja di Sumedang. Dari pernikahan tersebut terakhir mempunyai putera bernama Raden Anggayuda yang menikah dengan Raden Nataningrum, putera Suradireja.

Wawacan SAMAUN

Ki Halid di negeri Mekah beristrikan Nyi Siti Huna. Mereka masih menyembah berhala. Karena putranya yang sembilan orang ittu perempuan semua, mereka selalu berdoa agar dikarunia anak laki-laki. Permohonan kedua orang suami istri itu dikabulkan, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Samaun. Begitu anak itu dilahirkan, kemudian berlari ke luar rumah dan bersujud kepada Allah sambil mengucapkan kalimat syahadat. Nyi Siti Huna sangat terkejut, apalagi ketika disuruh menyusu tidak mau bahkan berkata tidak mau menyusu karena ibunya seorang kafir. Demi kebahagiaan anaknya, kemudian Siti Huna masuk Islam dan mengucapkan syahadat.

Di tempat tidur Samaun selalu bercakap-cakap dengan ibunya. Ki Halid melihat kenyataan bahwa anaknya baru tiga hari sdudah dapat berbicara dan meminta adar ayahnya masuk Islam, maka Ki Halid pun masuk Islam san mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad mendengar ada anak yang baru dilahirkan sudah dapat berbicara dan kedua orang tuanya sudah mansuk Islam, berkenan pergi malayat.samaun dipanguk dan diciumi oleh Nabi Muhammad.

Abu Jahal mendengar Nabi Muhamad telah melayat keluarga Ki Halid, berkenan pula pergi menengok Samaun. Akan tetapi baru saja Abu Jahal masuk di pekarangan, Samaun berteriak-teriak mengancam sehingga Abu Jahal lari pontang-panting. Atas kelakuan Samaun semacam itu, menimbulkan kemarahan Abu Jahal. Patih Surakah diminta tolong oleh Abu Jahal agar Nabi Muhammad dan Samaun diusir dari Mekah. Ketika diadakan pembicaraan bagaimana caranya megusir Samaun, ternyata tidak ada yang sanggup. Oleh karena itu, Abu Jahal meminta bantuan kepada Kin Wan taja di negeri Iskandar.

Sebelum Kin Wan datang melapor Abu Jahal akan menangkap Samaun dilewatinya rumah Samaun itu. Kin Wan terpancing pertengkaran mulut dengan Samaun sehingga kemudian berkelahi dan Kin Wan terbunuh. Rakyat Mekah geger menyaksikan Kin Wan terbunuh itu. Abu Jahal bertambah marah. Dikumpulkannya tentara dan dikepungnya rumah Samaun. Akan tetpi, setiap orang yang akan menangkap Samaun selalu mati terbunuh.

Samaun pada suatu ketika bertemu dengan Abu Jahal di pasar. Terjadilah percakapan yang tidak mengenakan Abu Jahal, apalagi setelah Samaun meminta Abu Jahal agar puterinya diberikan untuk dijadikan istri. Samaun masuk ke rumah Abu Jahal. Di rumah Abu Jahal, Samaun menjumpai dua orang wanita dan satu diantaranya adalah puteri Abu Jahal. Kedua orang wanita itu kemudian masuk Islam dan dibawa ke rumah Samaun. Abu Jahal bukan main berangnya, tetapi ia bingung pula memikirkan bagaimana cara mengusir Samaun dan Nabi Muhammad.

Tersebutlah di negeri Suara yang dirajai oleh Kobti mempunyai seprang puteri bernama Siti Mariyah. Walaupun sudah dilamar oleh banyak raja, tetapi selalu ditolak oleh ayahnya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, Siti Mariyah menyuruh orang untuk datang kepada nabi Muhammad. Siti Maryah meminta Nabi Muhammad agar datang melamarnya. Mula-mula Nabi Muhammad bingung, tetapi setelah mendapat restu Siti Aisah istrinya, dan pula setelah mendapat wahyu, maka berangkatlah Nabi Muhammad beserta pengikut-pengikutnya ke negeri Suara. Raja Suara tidak senang atas kedatangan Nabi Muhammad itu dan terjadilah peperangan.

Peperangan antara balatentara Kobti dari negeri Suara dan tentara Nabi Muhammad dimenangkan oleh tentara Nabi Muhammad walaupun jumlah tentara Kobti jauh lebih banyak. Samaun dalam peperangan ini sangatlah besar jasanya, bahkan Siti Mariyah puteri raja Kobti pun dapat dibawa lari oleh Samaun, yang kemusian diserahkan kepada Nabi Muhammad. Raja Kobti berikut para pengawalnya mati terbunuh oleh Ali, sahabat nabi.
Para prajurit Kobti yang masih hidup bersma-sama Siti Mariyah kemudian masuk Islam. Seluruh harta kekayaan negeri Kobti dibawa ke negeri Mekah dan diperlakukan sebagai barang gonimah.

Wawacan SI OGIN AMAR SAKTI

Baginda Ma’ruf raja kerajaan Madusari adalah putera Bagenda Hamzah, cucu nabi Yusuf, mempunyai dua orang istri. Istri pertama bernama Nurhayat, sedang istri kedua bernama Lasmaya. Bagenda Ma’ruf dari Nurhayat mempunyai dua anak tiri bernama Pangeran Sbang dan Raden Saka. Lasmaya sendiri adalah keturunan Wiku Bagawan Madali.

Bagenda Ma’ruf pergi berburu ke hutan. Lasmaya yang sedang hamil tua ditinggalkan bersama Nurhayat. Ketika Lasmaya melahirkan, Nurhayat menyuruh dukun beranak agar mata Lasmaya ditutup. Anak laki-laki yang lahir dari Lasmaya dibuang ke laut dan sebagai gantinya diletakan anak kucing, anak kera dan seekor burung ciung. Setelah Bagenda Ma’ruf datang bukan main marahnya dan menuduh Lasmaya berbuat serong sehingga disuruhnya dibunuh. Namun atas nasihat patih Budiman, Lasmaya tidak jadi dibunuh melainkan dibuang ke hutan. Lasmaya dimasukkan ke dalam kerangkeng besi dan ketiga “puteranya” diikutsertakan. Kucing kemudian diberi nama Panji Malang, kera diberi nama Panca Tanran dan burung diberi nama Panji layang. Ketiga “puteranya” itu dapat bertingkah seperti manusia dan dapat menceritakan kepada Lasmaya bahwa putera yang sebenarnya dibuang ke laut atas perintah Nurhayat.

Panca Tanran dan Panji Malang dapat mengambil pedang pusaka yang tersimpan di keraton Madusari. Dengan pedang tersebut kerangkeng dapat dihancurkan. Mereka kemudian berlindung di tanah ladang, di kaki gunung.
Antaboga, raja negeri Malebah dalam perjalanannya di pinggir laut menemukan seorang bayi laki-laki yang sedang terapung-apung. Bayi itu diambil, dipelihara dan diberi nama Amar Sakti. Setelah Amar sakti dewasa diberi tahu ole Antaboga tentang siapa sebenarnya Amar Sakti itu.

Amar Sakti diberi kesempatan berkelana mengelilingi negeri Malebah. Dalam kesempatan itu ia berjumpa dengan ibu serta adik-adiknya. Lasmaya dan ketiga “puteranya” dibawa oleh Amar Sakti ke Malebah dan diterima dengan baik oleh raja Antaboga.

Amar Sakti disuruh pergi ke Madusari oleh Antaboga untuk menjumpai ayahnya. Namun, diperjalanan di tengah hutan, Amar sakti berjumpa dengan rombongan Raja Bagenda Ma’ruf yang sedang kesulitan, karena ada seekor burung mengamuk. ketikaBagenda Ma’ruf akan ditanduk oleh seekor banteng. Amar Sakti yang menyamar sebagai anak kampung dapat membunuh banteng. Amar Sakti yang menyamar dibawa oleh Bagenda Ma’ruf ke Madusari dan diberi tugas menemani pangeran Sabang dan raden Saka. Di Madusari, Sarah berkesempatan berguru kepada Patih Budiman bersama-sama Pangeran Sabang dan raden Saka.
Nurhayat tidak senang dengan adanya Sarah di keraton. Pada kesempatan Sarah dibawa pergi oleh Pangeran Sabang dan raden Saka untuk mencari pedang yang hilang. Sarah dibunuh, kepada raja dilaporkan bahwa pedang tidak dpat ditemukan, sedangkan sarah mati diterkam binatang buas. Raja bersedih hati merindukan pedang yang hilang.

Karena Antaboga itu sebenarnya raja jin Islam. Ia mengetahui Amar Sakti yang berganti nama menjadi Sarah itu mati di tengah hutan. Antaboga segera datang dan menghidupkan kembali serta membuat pedang tiruan yang serupa dengan pedang kepunyaan Bagenda Ma’ruf yang hilang. Sarah disuruh pergi mengantarkan pedang ke raja Madusari. Kepada raja, sarah melaporkan bahwa benar ia diterima badak, dan di dalam perut badak ada seorang perempuan yang dijaga oleh seekor kucing, dan seekor burung. Dikatakan oleh Sarah bahwa pedang itu diperoleh dari ketiga ekor binatang itu. Setelah menyerahkan pedang, Sarah pergi pamit untuk pulang ke kampung.

Dalam perjalanan pulang, Sarah tiba di negeri Mulki. Rajanya yang bernama Mulkiyah mempunyai seorang putri yang cantik bernama Bidayasari. Di negeri Mulki, Sarah berganti nama menjadi Ogin dan disini dipungut anak oleh tukang kebun bunga. Bidayasari sangat senang kepada keindahan dan bunga-bungaan.
Bidayasari dilamar oleh raja Madusari untuk dikawinkan kepada putranya, dan Pangeran Sabgn dan Raden Saka disuruh tinggal di Keraton Mulki. Tetapi, Bidayasari tidak melayani malah pergi ke kampung dan mencintai Ogin, serta Ogin dibawa ke istana.

Raja Gumati dari kerajaan Geulang Karaton mencintai Budayasari. Dirga Bahu dan Jaya Kelana, patih kerajaan geulang Karaton menculik Bidayasari. Seluruh negeri geger dan pasukan tentara dikerahkan mencari. Ogin semula tidak ikut mencari, akan tetapi manakala raja menyatakan bahwa barang siapa dapat menyelamatkan Bidayasari akan dijadikan menantu. Ogin pun pergi mencari putri. Setelah sampai di luar istana, Ogin menjelma menjadi Amar Sakti dan kuda sakti pemberianAntaboga yang bernama Gelap Sakti siap membantunya. Akhirnya, penculik putri dapat dikalahkan dan putri dapat diselamatkan. Amar Sakti menolak mengantarkan putri ke istana walaupun putri menyatakan cinta kepada Amar Sakti. Dan oleh Amar Sakti diceritakan bahwa tahu putri diculik itu dari si Ogin. Amar Sakti meminta kepada putri bahwa untuk calon suami harus mengadakan sayembara yang isinya barang siapa dapat membawa kera, kucing dan burung yang bisa menyanyi dan berbicara, itulah jodohnya. Setelah berkata tentang permohonan sayembara Amar Sakti menghilang dan muncul kembali si Ogin. Putri marah kepada si Ogin sebab tidak terus terang mempunyai majikan tampan.

Raja Mulki mengadakan sayembara, kepada pelamar pertama yaitu Pangeran sabang, raja berkata bahwa sayembara itu dilakukan untuk keadilan karena ada seratus orang pelamar. Si Ogin permisi pulang kampung dan kepada Antaboga berkata bahwa ia mencintai putri. Antaboga menyuruh Panji Malang, Panji Lyang dan Panca Tandran melamar putri. Karena ketiga binatang itu kelakuannya seperti manusia dan sangat menyenangkan, raja menerima lamaran.

Patih Durjaman mempengaruhi raja Mulki yang sedang bingung. Patih menyarankan agar dilakukan perkawinan dengan Pangeran Sabang dari Madusari. Akan tetapi, pada saat perkawinan dilangsungkan, datanglah rombongan Lasmaya dari Malebah dan mendesak bahwa putranyalah yang berhak menjadi suami sang putri. Terjadilah pertarungan antara Madusari dan Malebah. Dewi Lasmaya ikut berperang dan tidak dapat dikalahkan. Nurhayat akhirnya diketahui berbuat curang. Maka Bagenda Ma’ruf kembali berpramesuri Lasmaya, sedangkan Ogin Amar Sakti menikah dengan Bidayasari.

Wawacan SULANJANA

Di Suralaya para dewa bermusyawarah untuk mendirikan bakal Pancawarna. Dewa Anta ditugasi membuat batu penyangga tiang. Tetapi karena badannya berbentuk ular, dewa Anta tidak dapat melaksanakan tugasnya. Dewa Anta menangis sedih sehingga meneteskan air mata tiga butir. Air mata itu kemudian berubah menjadi tiga butir telur yang dibawanya dengan cara digenggam oleh mulut.

Karena kesalahan seekor burung elang, telur itu jatuh dua butir yang kemudian menetas menjadi Kalabuat dan Budug Asu. Sapi Gumarng raja segala binatang jelmaan kecing idajil (setan), memelihara Kalabuat dan Budug Basu sebagai anak angkat.

Atas perintah Batara Guru, telur yang tinggal sebutir itu dierami oleh Dewa Anta. Telur menetas, lahirllah seorang putri yang cantik diberi nama Dewi Pohaci Terus Dangdayang atau juga Dewi Aruman.
Batara Guru mencintai Dewi Pohaci dan berniat memperistri. Akan tetapi keinginan Batara Guru itu ditentang oleh Batara Narada sebab hal itu akan merusak citra Batara guru. Di samping itu, Batara Guru oleh Batara Narada dianggap melanggar hukum dan merusak agama sebab Dewi Pohaci diasuh dan disusui oleh Dewi Umah, istri Batara Guru. Jadi, Dewi Pohaci masih tergolong anak Batara Guru, dengan demikian perkawinan Batara Guru dan Dewi Pohaci tidak boleh terjadi.

Agar perkawinan tidak jadi, Batara Narada mencari akal. Diberinya Dewi Pohaci buah kloldi sehingga berhenti menyusu. Tapi karena ketagihan dan buah koldi itu tidak ada lagi, Dewi Pohaci jatuh sakit sehingga meninggal dunia. Mayat Dewi Pohaci diurus oleh Bagawan Sang Sri dan kuburannya dijaga siang malam sambil menyalakan dupa. Kemudian keluarlah dari dalam kuburan itu berjenis-jenis tanaman. Dari kuburan bagian kepala keluar kelapa, dari telinga keluar macam-macam padi ketan, dari tangan keluar enau, dari jari keluar macam-macam pohon bambu, dari tali ari-ari keluar tumbuhan menjalar, dari payudara keluar macam-macam buah-buahan, dan dari bagian tubuh yang berbulu macam-macam rerumputan. Pendek kata semua jenis pepohonan berasal dari tubuh Dewi Pohaci.

Semar ditugasi oleh Batara Guru Untuk membawa bibit-bibit tanaman itu ke negeri Pakuan yang dirajai Prabu Siliwangi. Istri Prabu Siliwangi bernama Dewi Nawang Wulan adalah putra Batara Guru. Maka dengan adanya bibit tanaman itu, negeri Pakuan menjadi subur makmur. Akan tetapi, Prabu Siliwangi dilarang mengetahui bagaimana Dewi Nawang Wulan menanak nasi. Jika Sang Prabu melanggar larangan akan jatuh talak kepada Nawang Wulan.

Tersebutlah Budug Asu yang diasuh Sapi Gumarang yang berada di Tegal Kapapan mencari Dewi Pohaci. Tiba di kuburan Dewi Pohaci, Budug Asu mengelilingi kuburan sebanyak tujuh kali. Setelah itu, Budug Basu meninggal dunia. Mayatnya oleh Kalamullah dan Kalamuntir dibawa keliling dunia sebanyak tujuh kali. Tetapi di tengah perjlanan mayat Budug Basu itu menjelma menjadi berjenis-jenis binatang bahkan peti mayatnyapun menjelma menjadi seekor badak. Kalamullah dan Kalamuntir, menjaga binatang-binatang itu menjadi sua bagian, yakni bagian darat dan bagian laut.

Sulanjana putra laki-laki yang diasuh Dewi Pratiwi, dititipi negeri Suralaya sebab Batara Guru dan Batara Narada akan turun ke bumi memeriksa negeri Pakuan, kedua batara itu menjelma menjadi burung pipit.
Tersebutlah Demu Awang dari negeri seberang akan membeli padi dari pakuan, karena padi-padi tersebut hanya titipan batara Guru, oleh putra Siliwangi permohonan Dempu Awang itu ditolak. Karena Dempu awang sakit hati, dimintanya bantuan Sapi Gumarang untuk merusak tanaman padi.

Sapi Gumarang dibantu oleh binatang-binatang jelmaan Budug Basu, merusak tanaman padi, sedangkan Sulanjana dan kedua orang adik perempuannya yang bernama Talimendang dan Talimenir, menjaga dan menyembuhkan padi atas perintah Batara guru. Terjadilah peperangan antara penjaga dan perusak. Akan tetapi aklhirnya Sapi Gumarang kalah dan berjanji akan mengabdi kepada Sulanjana asal pada setiap mulai menanam padi “disambat” (dipanggil secara batin), serta disediakan daun paku pada pupuhunan (tempat saji di ladang atau di sawah).

Prabu Siliwangi penasaran ingin melihat cara Nawang wulan menanak nasi. Dibukanya pada yang sedang dimasak. Maka Dewi Nawang Wulan kembali ke kahyangan. Namun sebelum pergi sempat berpesan terlebih dahulu agar membuat lesung, dulang, kipas, bakul dan periuk untuk menanak nasi. Prabu Siliwangi menyesal dan menghadap Batara guru minta pengampunan dan agar Dewi Nawang Wulan kembali ke Pakuan. Permohonan Sang Prabu ditolak, kemudian pulang ke Pakuan setelah menerima pelajaran bagaimana menanak nasi dan bercocok tanam yang baik. Dewa Anta oleh Batara Guru diturunkan ke bumi untuk menjaga padi.

Wawacan SULUK WAWACAN DUA PANDITA RAI RAKA

Tersebutlah ada dua orang pendeta kakak beradik bernama Pandita Buana dan Pandita Wisesa. Selama hidupnya antara kedua pendeta itu selalu saling bertanya jawab masalah “hidup” dan mereka selalu berpikir mengenai nilai-nilai kehidupan. Pendeta Buna bertempat tinggal di sebuah kampung besar yang bernama Jembar ngalah, sedangkan pendeta Wisesa bertempat tinggal di sebuah kampung kecil bernama jaman Ngalah.
Pertanyaan pertama diajukan oleh pendeta Wisesa yang kemudian dijawab oleh Pendeta Buana. Adapun pertanyaanya itu adalah:” Tatkala kita hidup di dunia, bagaimana asal muasalnya dan bagaimana kita lahir dari orang tua”.

Kata Pendeta Buana;” Kita berada di tujuh alam, dan melalui tujuh alam itu kita lahir ke dunia”. Ketujuh alam itu ialah alam akhadiat, alam wahdat, alam wahidiat, alam arwah, alam ajam, alam misal dan alam insan kamil’. Pada akhir penjelasan tiap-tiap alam, pendeta Buana memberikan pandangannya berupa nasihat mengenai sikap kita terhadap anak yatim dan anak kita sendiri.

Selanjutnya, pendeta Buama memberikan pertanyaan kepada pendeta Wisesa yang isinya “Apa yang akan ditempuh oleh orang yang akan meninggal dunia”. Pendeta Wisesa menerangkan bahwa jalan yang ditempuh oleh orang yang akan mati melalui tujuh alam yang berlambangkan dalam badan kita sendiri, yaitu lidah, telinga, hidung, mata, kulit, otak dan kemaluan. Kepada tujuh anggota badan tersebut itulah kita mengabdi selama hidup.

Karena kesenangan di akhirat nanti sangat bergantung pada penggunaan ke tujuh anggota badan itu, yaitu apakah diabdikan untuk kehidupan duniawi saja atau juga bagi kepentingan hidup di akhirat nanti, maka Pendeta Wisesa memberi nasihat agar kita jangan terlalu mementingkan kehidupan duniawi saja ataujuga bagi kepentingan hidup di akhirat nanti, maka Pendeta Wisesa memberi nasihat agar kita jangan terlalu mementingkan kehidupan di dunia saja. Proses kematian, alam sesudah mati yang akan kita masuki, fungsi upacara-upacara tahlilan, sedekah kematian hari pertama, hari ketujuh, hari keempat puluh dan hari keseratus, oleh Pendeta Wisesa dijelaskan dengan panjang lebar.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh Pendeta Wisesa setelah menjawab pertanyaan Pendeta Buana, “Apa yang dpat dibawa dari kehidupan di dunia untuk kepentingan hidup di akhirat nanti”. Pendeta Buana menerangkan bahwa ada lima hal pekerjaan di dunia, yaitu yang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, mulut dan otak. Kelima pekerjaan itu seperti dilambangkan oleh rukun Islam. Keterangan mengenai rukun Islam pun oleh pendeta Buana dijelaskan dengan panjang lebar.

Nasihat-nasihat dari pendeta itu sangat penting buat kita yang pada pokoknya dalam hidup itu harus saling asah, asuh dan asih.

Wawacan SULUP

Berisikan ajaran tarekat Islam atau disebut ilmu tasauf Islam. Tarekat adalah ajaran agama Islam secara mendalam.
Ilmu ini hanya boleh dipelajari oleh mereka yang telah cukup umur untuk dapat menghayati dan bisa menjawab untuk apa manusia dihidupkan oleh Tuhan, apa Tuhan, apa tugas manusia selama hidup dan kemana kita pergi setelah dipanggil oleh Allah.

Dalam naskah ini dibahas tentang hal berikut:
Pertama
Kita sebagai makhluk Tuhan harus menafakuri dan memikirkan tentang terjadinya diri kita yang berwujud manusia. Dari mana kita datang, untuk apa kita dijadikan manusia dan di mana sesungguhnya kita berada dan hendak ke mana kita di kemudian hari.

Kedua
Kita sebagai mahluk Tuhan harus menafakuri apa yang terjadi di sekitar kita berada, yaitu mahluk ciptaan Tuhan yang lain, mengapa kita diciptakan bersama makhluk yang ada di dalam sekitar kita. Mengapa Tuhan menciptakan pula bumi dan langit. Apa tugas dan kewajiban manusia terhadap alam dan ciptaan Tuhan lainnya. Sebagaimana manusia ciptaan Tuhan lain pun bagaimana kelanjutannya.

Dari hasil pemikiran dan menafakuri yang disebut tadi, dapat diambil kesimpulan bahwa hidup manusia ini tidak mempunyai makna dan arti apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah, kecuali bila manusia itu sendiri mau berbakti dan bersujud kepadanya.
Dalam naskah ini, dikatakan pula bahwa seyogyanya manusia sendiri mungkin berbakti dan menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangannya. Selama kita hidup pintu taubat belum tertutup bila berkesempatan hidup ini tidak dimanfaatkan, dan ajal kita telah diambil artinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk taubat. Penyesalanlah yang akan kita peroleh.